23 September, 2015

Cerpen: Catatan Bu Siti


Matahari pagi lumayan cerah, walaupun sedikit mendem. Tapi ini lebih baik daibanding hari-hari sebelumnya yang begitu menyengat, atau sebelumnya lagi yang melulu diguyur hujan. Jadi hari ini anak-anak bisa melaksanakan upacara bendera dengan aman, maksudnya tidak terlalu panas atau tidak takut kehujanan. Seperti biasa sebelum upacara dimulai selalu ada kesibukan kecil, seperti menyiapkan sound, menyiapkan laptop untuk memutar lagu wajib, menyiapkan naskah upacara, dan lain-lainnya. Dan biasanya untuk urusan seperti ini Pak Unang dan Pak Usep yang melakukannya. Untuk yang berat-berat semisal mengambil sound ini tugasnya Pak Rahmat. Selalu begitu setiap hari senin. Maklum Pak Usep adalalah panjab bidang upacara, sementara Pak Unang dia guru spesial untuk menangani akomodasi, dan pak Rahmat tak lain adalah penjaga sekolah yang tugasnya kadang multi fungsi, selain tugasnya menjaga sekolah dia juga petugas kebersihan, tukang memperbaiki apabila ada kerusakan pada mebeuler sekolah, antar dan ambil potokopian serta banyak lagi.

“kepada pembina upacara, hormaaaat gerak!
Terdengar pemimpin upacara memberi komando hormat, diikuti serentak oleh peserta upacara.

Kali ini petugas upacaranya kelas tiga, di sekolah kami petugas upacara selalu bergantian, estapet dari kelas tiga sampai dengan kelas enam. Dan karena masih kelas tiga,dengan fisik yang masih mungil-mungil terlihat sangat menarik.  Satriyo yang memimpin upacara, siswa yang satu ini memiliki keunikan tersendiri, suka ngobrol dengan guru, ngobrolin apa saja, teman-temannya mengatakan “kepo”, ketika bicara selalu tersenyum bahkan tak segan tertawa terbahak sampai berurai air mata didepan gurunya, walaupun begitu ketika belajar dia cukup serius.

Upacara berjalan lancar, sekalipun ada saja kejadian kecil yang membuat peserta upacara tersenyum, seperti pemimpin upacara lupa teks saat laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara. Kerekan bendera yang macet menghambat penarik bendera untuk menyamakan dengan lagu Indonesia Raya, akhirnya ketika lagu selesai bendera masih setengah tiang . Untuk menaikannya harus dibantu sama pak Usep. Kejadian tersebut akhirnya menjadi bahan evaluasi yang disampaikan kepala sekolah saat amanat pembina upacara untuk wali kelas yang menyiapkan para petugas upacara kali ini

Upacara pun selesai. Seluruh siswa dan guru masuk ke kelas untuk memulai jam pelajaran pertama.

Di ruang kelas tiga terlihat wali kelas sedang mengevaluasi jalannya upacara hari ini. Bu Siti nama wali kelas tiga tersebut. 

“Alhamdulillah kalian sudah bisa menjadi petugas upacara hari ini, kalian hebat!” Disambut dengan hore dan tepuk tangan anak-anak.

“Tapi tadi Satriyo lupa laporannya bu!” Kata Satriyo dengan raut muka bersalah.

“Pengerek bendera juga tidak pas bu dengan lagu!” Kata Uti yang tadi kebagian jadi pengerek bendera.

“Tidak apa-apa. Yang penting kalian sudah berani tampil. Kesalahan kali ini jadi pelajaran buat kita semua agar nanti ketika kebagian jadi petugas upacara lagi benar-benar dipersiapkan lagi!” Bu Siti menyemangati.

“Kita juga sudah latihan, tapi tetep saja ada yang salah ya bu!”

“Benar Satriyo, kita sudah latihan. Tapi kesalahan bisa saja terjadi karena kita kurang percaya diri, sehingga jadi grogi. Bisa pula lantaran kita kurang mempersiapkannya kembali pas sebelum upacara.” Lagi bu Siti menyemangati Satriyo dan anak-anak yang lainnya.

“Sudah, kesalahan tadi kita jadikan pelajaran ya! Sekarang saatnya kita belajar!” Bu Siti mengakhiri evaluasi bendera hari ini.

Pelajaran pertama pun dimulai, anak-anak terlihat senang saat bu Siti menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan model cerita dan beberapa media gambar, dan sesekali diselingi dengan nyanyian.

Tak terasa jam pertama berlalu dengan cepat. Teet teet teet, bel istirahat terdengar. “yaaaah bel!” hampir sertentak anak-anak berkata seperti itu. Mereka lagi senang-senangnya mendengar bu Situ bercerita dan menunjukan gambar-gambar menarik.

“bu nanti ceritanya terusin lagi ya!” Pinta Uta. “iya bu, seru!” Uti menimpali. “bener bu nanti lanjutin ya!” terdengar suara Satriyo dan diikuti anak-anak lainnya. Begiutlah kalau anak-anak lagi senang, pasti mereka ingin berlama-lama bersama gurunya.

“iya iya nanti ibu lanjutkan ceritanya, tapi ingat kalian harus serius belajarnya, tidak boleh malas-malasan!” bu Siti menanggapi yang langsung disambut dengan “horeeee!” anak-anak sangat senang dengan janji bu Siti tersebut.

“nah sekarang kalian sholat duha dulu, setelah sholat duha kalian boleh beristirahat, dan kalau sudah terdengar bel masuk berbunyi kalian jangan terlambat masuk kelas lagi ya!”
“baik bu!”

Siswa kelas tiga langsung berhamburan keluar kelas dengan membawa perlengkapan solat yang mereka simpan di lokernya masing-masing. Bu Siti tersenyum melihat siswa-siswanya, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak, terlebih anak-anak yang diasuhnya di kelas tiga menunjukan peningkatan prestasinya masing-masing. Hups, tak ada kebahagiaan lain yang melebihi apa yang ia rasakan dengan melihat siswanya tersebut.

Sebelum keluar dan ikut membimbing siswa berwudhu dan sholat duha, bu Siti tak lupa untuk mencatat hal-hal menarik yang ia temukan selama proses kegiatan belajar tadi. Mencatat apa yang dilihatnya tentang perubahan prilaku, kemampuan, dan kejadian-kejadian lainnya yang berhubungan dengan siswa, terutama kendala-kendala yang tadi ia temukan. Ini akan menjadi catatan berharga yang setelah pulang ke rumah akan ia baca lag untuk kemudian coba dicarikan solusinya, atau ia tulis dalam blog pribadinya.

“alhamdulillah...!” ucap bu Siti setelah selesai mencatat kejadian belajar tadi. Setelah itu ia bergegas menuju tempat wudhu untuk ikut melakukan bimbingan cara berwudhu yang benar kepada siswa-siswanya. Walaupun sudah ada guru lainnya yang diberi amanah untuk melakukan bimbingan ibadah, tapi sebagai wali kelas bu Siti merasa bertanggungjawab atas semua hal untuk siswanya.

Di tempat wudhu laki-laki, pak Suai’di sudah sibuk dengan puluhan siswa yang sedang berwudhu. Suaranya tak henti-hentinya memberi bimbingan dari mulai niat, do’a ketika membasuh bagian tubuh, sampai do’a terakhir setelah berwudhu. Siswa laki-laki dan perempuan dibuat terpisah, ini untuk memberi pelajaran sejak dini, tentang adab-adab pergaulan laki-laki dan perempuan ada batasan-batasan. Karena pada saat berwudhu dikhawatirkan ada fitnah dari sebagian kecil aurat perempuan yang terlihat.

Sementara ditempat wudhu perempuan, bu Eli juga melakukan hal yang sama. Memberi bimbingan wudhu kepada siswa perempuan. “bismillahirohmanirohim, nawaitu wudlu’a hirfil hadsi agori lillahitaala” terdengar suara bu Eli yang diikuti serempak para siswa. Kemudian para siswa sama-sama membasuh pipinya, bu Eli kembali dengan suara agak keras membacakan do’a membasuh pipi yang diikuti serempak oleh para siswa sambil melakukan gerakan membasuh pipi.

Semua gerakan dan do’a wudhu dilakukan bersama-sama, hal ini untuk mentartibkan wudhu serta menghafal do’a tiap gerakannya. Dari kelas satu sampai kelas empat semuanya demikian, kecuali siswa kelas lima dan enam, mereka sudah dipercaya untuk melakukanya sendiri. Sekalipun demikian, ketua kelas lima dan enam akan memantau teman-temannya saat berwudhu, dan memberi peringatan kepada temannya yang berwudhu tidak tartib.

Di tempat wudhu perempuan bu Siti ikut melakukan bimbingan, dan mendekati salh seorang siswi yang terlihat berwudhunya asal-asalan.

“afwan, rifdah itu mata kakinya belum terbasuh semua!” kata bu Siti yang diikuti dengan anggukan Rifdah sambil membasuh kembali mata kakinya.

“ashadualla ila hailallah wahdahula sarikalah wa ashaduanna muhammadan abduhu warosuluhu.............” semua siswi serempak membaca do’a setelah berwudhu. Kemudian mereka segera menuju Musholah perempuan.

“maaf umi tadi saya luput memperhatikan Rifdah!” bu Eli menghampiri bu Siti. Oh ya, bu Siti merupakan guru perempuan yang dituakan, jadi semuanya memanggil bu Siti dengan umi. 

“tidak apa-apa bu, kebetulan tadi umi yang melihatnya dan sepertinya bu Eli sibuk dengan yang lainnya. ini sudah menjadi tugas umi, dan siapapun guru disini memberi bimbingan berwudhu!” jawab bu Siti disertai senyumannya. Mereka pun segera menuju Mushola perempuan.

Di Mushola para siswa sudah ditunggu guru pembimbing sholat duha. Seperti biasa, setiap sholat duha semua guru memiliki amanah masing-masing. Ada yang kebagian pembimbing wudhu, ada yang kebagian pembimbing sholat, dan ada yang kebagian membimbing perlengkapan sholat, ada yang membimbing bacaan sholat, semua disusun sesuai jadwal.

Mengerjakan sholat duha memang bukan suatu kewajiban, tapi membiasakan siswa untuk mengenal dan melaksanakan sunah merupakan proses pembelajaran. Diharapkan setelah besar nanti mereka teringat dengan apa yang pernah dilakukan disini, di Sekolahnya saat ini. Dan mudah-mudahan apa yang diingatnya menjadi pemicu untuk terus melaksanakan ibadah sunah ini.

Bersambung..........



1 komentar: