14 Juni, 2018

Belajar Untuk Tidak Mudah Tersinggung Dengan Kritik dan Kedaan


Perasaan mudah tersinggung, kerap menghampiri kita ketika sedikit saja di kritik teman atau orang lain tentang apa yang sudah kita perbuat, atau bahkan rencana yang akan kita kerjakan. Kita sering ingin marah, atau paling tidak menahan amarah terhadap si pengkritik tersebut.


Padahal boleh jadi apa yang dikritikan ke kita sebenarnya memang sebuah koreksi, ada yang salah dengan yang sudah kita perbuat, ada yang tidak pantas, atau tidak semestinya kita lakukan. Sebab kesalahan akan mudah terlihat oleh orang lain daripada oleh diri kita sendiri.

Memang tidak mudah untuk berkepala dingin, tidak mudah untuk menahan ingin membalas kritik dengan kata-kata yang lebih pedas, menimpali, dan membantah semua kritikan yang ditujukan ke kita. Perlu kejernihan hati untuk bisa menahan sikap, perlu perjuangan yang sangat berat untuk menahan emosi kita.

Adalah wajar, manakala kita sering melihat debat kusir pada acara diskusi publik, karena sulitnya menahan diri untuk tidak mudah tersinggung, menahan diri untuk tidak mudah dikritik. Adu kata-kata, adu hastag, adu jargon dan lain sebagainya yang belakangan menambah kegaduhan publik adalah cerminan tidak mudahnya menahan diri dari ketersinggungan dan kritikan.

Sebagai Guru, yang mestinya memberi contoh keteladanan dengan tidak mudah tersinggungpun rasanya sulit. Ketika siswa mengkritik, kuping ini cepat memerah, dan amarah kian menohok untuk ingin secepatnya mengeluarkan kata-kata yang lebih pedas dari kritikan siswa. Disinilah perlunya belajar untuk tidak mudah tersinggung baik dengan kritikan orang lain, maupun dengan keadaan disekitar kita.

Mari ktia sama-sama belajar untuk tidak mudah tersinggung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar